Lanjut ke konten
Iklan

Sayap Merpati dan harapan pilot muda Papua

Pemerintah Provinsi Papua/Papua Barat maupun pemerintah kabupaten/kota di Tanah Papua mungkin bisa ikut serta dalam penanaman/penyertaan modal bagi kembali beroperasinya maskapai ini

Pesawat Merpati (Foto: Istimewa)

FojaOnline – Sayap Merpati yang sempat patah hingga ‘tra’ (tidak) bisa mengudara selama empat tahun sejak 2014, kini mulai tertatih bangkit untuk terbang lagi. Saya lantas teringat puluhan adik-adik calon pilot Papua yang kini sedang belajar sebagai penerbang di berbagai negara bagian (state) di Amerika Serikat (AS).

Diantara mereka ada beberapa yang ingin meniti karir yang sama dengan dukungan dana Otonomi Khusus (Otsus) Papua, tapi tidak bisa melanjutkan studi alias berhenti di sekolah penerbangan (flying school) pada 2016-2017 lalu hingga akhirnya harus pulang kembali ke Papua.

Beberapa lagi terpaksa harus berhenti di tengah jalan selagi studi karena biaya mereka yang sudah diberikan oleh pemerintah daerah untuk satu paket studi hingga selesai sudah keburu habis karena kebutuhan yang mendesak dan tak terduga sebelum studi mereka selesai. Mereka ini ada yang sudah pulang dan ada yang masih bertahan tinggal di AS.

Mereka yang mengalami situasi ini terpaksa harus bertahan hidup apa adanya dengan menumpang pada teman sesama Papua sambil mencari pekerjaan hingga mencari kemungkinan bisa melanjutkan studi kembali.

Belum lagi yang mengalami kendala dalam hal hambatan budaya atau ‘culture shock’, keterbatasan bahasa Inggris saat belajar dalam memahami hal-hal teknis pembelajaran, dan yang mengeluh soal masalah begini, begitu dan macam-macam.

Masalahnya selain karena Pemerintah Provinsi Papua melalui instansi teknis bersama pihak ketiga (agen pendidikan luar negeri) yang salah urus, tapi juga harus jujur diakui karena kekurangan adik-adik kita ini sendiri yang perlu dibina lagi dan harus banyak belajar.

Saya pernah mendengar berbagai cerita yang memilukan dari adik-adik kita ini tentang bagaimana mereka bisa memilih dan bercita-cita menjadi pilot kelak. Suatu kebanggaan tersendiri bagi mereka ketika suatu saat bisa duduk di depan ruang kokpit pesawat lalu menerbangkan para penumpang yang di dalamnya terdapat sanak-keluarga atau teman-teman masa kecil mereka.

Apalagi kebanyakan dari mereka adalah anak-anak yang berasal dari wilayah pedalaman Papua. Anak-anak dari balik gunung, lembah dan hutan yg terisolasi oleh jalur transportasi darat maupun laut sehingga hanya bisa dihubungkan dengan transportasi udara.

Pengalaman menjadi pilot terlintas di benak mereka ketika masih kanak-kanak dulu. Yaitu saat bermain di sekitar area landasan pacu (run way) pesawat terbang perintis atau melihat pesawat-pesawat berbadan kecil yang terbang menerobos celah-celah gunung berkabut lalu mendarat dengan mulus di kampung mereka. Inilah kisah yang kebanyakan menginspirasi mereka.

Ada pula yang termotivasi karena sanak keluarga sesukunya ada yang sebelumnya menjadi pilot dan begitu membanggakan. Hal inilah yang kemudian memotivasi mereka juga untuk memilih jalur karir yang sama, menjadi pilot.

Pernah suatu ketika dalam cerita lepas saya bertanya, apakah kalian tidak takut mati ketika pesawat jatuh lalu hancur berantakan karena mengalami masalah teknis atau karena situasi alam/medan yang rumit serta kondisi cuaca yg berubah?

Kebanyakan mereka menjawab, itu sudah resiko sebagai pilot. Apalagi pilot juga merupakan profesi pelayan masyarakat, bahkan salah satu agen pembangunan.

Bagi mereka yang kelak akan bekerja sebagai pilot misionaris dengan menerbangkan pesawat-pesawat berbadan kecil bersama sejumlah lembaga misi seperti MAF, AMA, Misi Katolik, Aventist Mission, dan lain-lain, menjadi pilot adalah suatu panggilan bekerja untuk melayani TUHAN !

Sayangnya, dibalik impian dan upaya menggapai cita-cita mereka yg begitu tinggi di awan-awan, sejumlah adik-adik kita ini masih mengalami banyak kendala yang mestinya harus didengar dan dilihat sendiri oleh para pengambil kebijakan di Pemerintah Provinsi Papua sebagai pihak yg bertanggung jawab atas proses pendidikan mereka untuk menjadi calon pilot.

Ada yang kuatir tentang masa depan atau rencana selanjutnya ketika selesai studi penerbangan. Bagaimana nantinya mengembangkan diri untuk kualifikasi teknis lanjutan? Tentang maskapai apa yang cocok dan nantinya bisa dilamar di saat bursa persaingan menjadi pilot di sejumlah maskapai swasta dan nasional begitu ketat?

Adakah maskapai swasta lokal atau milik pemerintah daerah di Tanah Papua yang masih eksis dan bisa menampung mereka guna berkarir sebagai penerbang di masa depan?

Mungkinkah maskapai-maskapai nasional yang selama ini telah lama beroperasi dan banyak mengambil keuntungan dari mahalnya harga tiket di Papua, bisa menerima mereka untuk mengabdi dengan menerbangkan burung besi menjelajah negeri mereka sendiri???

Dapatkah Pemda Papua dan Pemerintah di Jakarta melalui kebijakan khusus membantu penyerapan pilot-pilot muda Papua untuk berkarya di berbagai maskapai nasional sebagai anak bangsa? Ataukah ada cara lain agar calon-calon pilot muda Papua ini bisa berkarya dengan mengembangkan keahlian (skill) sebagai penerbang?

Dibalik pertanyaan-pertanyaan itu, ada beberapa diantara mereka yang ingin berkarya menerbangkan burung besi di negara lain lewat maskapai asing. Tapi ini tentu butuh skill, kualitas dan pengalaman yang mumpuni.

Kini dengan wacana bakal beroperasi kembali maskapai Merpati Nusantara Airlines (MNA) di tahun 2019 setelah empat tahun sayapnya patah, tidak bisa terbang, karena konon mengalami masalah terlilit utang dan juga dijadikan BUMN sapi perah, mestinya Pemda Papua/Papua Barat dan sejumlah Pemerintah Daerah di Tanah Papua melihat ini sebagai angin segar !

Pemerintah Provinsi Papua/Papua Barat maupun pemerintah kabupaten/kota di Tanah Papua mungkin bisa ikut serta dalam penanaman/penyertaan modal bagi kembali beroperasinya maskapai ini. Hal ini mengingat sejarah kehadiran dan jasa pelayanan maskapai ini yg pernah sekian lama melayani jalur transportasi udara di seantero Tanah Papua.

Tujuan dari penyertaan modal ini tentu akan memberi posisi tawar bagi pemerintah daerah di Tanah Papua. Misalnya dalam hal pengkaderan dan penciptaan lahirnya generasi-generasi baru Papua di bidang penerbangan (aviation) yg dpt direkrut untuk bekerja di maskapai ini.

Sebab sektor penerbangan merupakan salah satu bidang strategis yang masih sangat langka digeluti orang Papua. Apalagi untuk kategori keahlian teknisi (mekanik) profesional hingga pada level perancang pesawat terbang sekelas Habbie dan para insinyur di IPTN.

Selama ini jangankan bermimpi mencetak generasi Papua menjadi tenaga profesional sebagai pilot, pramugari/pramugara, hingga mekanik pesawat dan perancang pesawat terbang, keberadaan seorang karyawan/ti asli Papua di sejumlah counter maskapai nasional yang ada di bandara-bandara di Tanah Papua saja tidak pernah kita jumpai. Realita ini tentu suatu ironi.

Ada lelucon bahwa barangkali orang Papua tidak ada yg berwajah cantik/ganteng ka? Atau tidak bisa mengetik dan tidak tahu mengoperasikan komputer sehingga profesi untuk sekelas petugas counnter dan check-in keberangkatan penumpang pesawat saja tidak menyertakan orang Papua di dalamnya. Padahal ‘dong pu tugas tra’ perlu butuh skill yang tinggi-tinggi.

Belum lagi tong bicara soal bagaimana menyiapkan generasi Papua untuk mengikuti pendidikan yang terkait dengan keahlian operasional penerbangan sipil, keselamatan transportasi udara dan pengoperasian bandara/lapangan terbang, kemampuan teknis mengenai cuaca yang mendukung sistem navigasi penerbangan, dan hal-hal teknis lainnya.

Semua ini sudah harus dipikirkan dalam grand desain penyiapan SDM tenaga profesional Papua di bidang jasa penerbangan dan transportasi udara yg lebih terarah melalui proses pendidikan hingga penyediaan lapangan pekerjaan.

Untuk apa orang Papua harus senang karena mulai menjamurnya sejumlah maskapai yang justru tidak membuat harga tiket bertambah murah, tapi tetap mahal dan lebih mahal pada moment-moment tertentu.

Sudah begitu semua urusan operasional dan bisnis jasa penerbangan ini sama sekali tidak melibatkan atau memberi peluang agar orang Papua bisa terlibat di dalamnya.

Percuma saja sejumlah bandara bertaraf nasional dan internasional di Tanah Papua dibangun dan dipoles sedemikian megah, tapi tenaga profesional orang Papua yang bekerja di dalamnya untuk urusan teknis operasional dan layanan penumpang hampir tidak dijumpai atau hanya bisa dihitung dengan jari.

Suatu saat saya ingin melihat suasana di seluruh bandara di Tanah Papua menyerupai bandara-bandara nasional/internasional di Amerika Serikat (AS). Dimana orang-orang-orang kulit hitam (Afro American) benar-benar mengambil peran penting, mulai dari tenaga pembersih taman, lantai, toilet hingga tenaga profesional sekelas pilot dan teknisi pesawat terbang.

(*) Musim gugur bulan November 2018 di Kota Rev. MLK, Jr, AS)

Dikutip dari FB Julian Haganah Howay

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: