Lanjut ke konten
Iklan

Gercin NKRI : stop nostalgia dengan kisah lalu

Masa lalu jadikan pijakan untuk bertindak masa kini dan meraih masa depan yang cerah dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia, karena Papua pasti lebih maju jika kita bersama-sama bersatu membangun daerah ini

Ketua DPD Gercin NKRI Provinsi Papua Alberth Ali Kabiay berpose bersama Staf Khusus Presiden Lenis Kogoya pada suatu kesempatan

FojaOnline – Ketua DPD Gerakan Cinta (Gercin) NKRI Provinsi Papua Alberth Ali Kabiay mengajak pemuda di Bumi Cenderawasih agar tidak lagi mengenang kisah lalu yang dihembuskan oleh sekelompok orang yang mencari keuntungan pribadi diatas penderitaan orang lain.

“Ada baiknya kita sebagai pemuda stop, berhenti bernostalgia dengan kisah masa lalu, karena kita hanya akan jalan ditempat, tidak akan maju,” katanya menanggapi isu 1 Desember yang biasa digaungkan oleh sekelompok orang di Kota Jayapura dan sekitarnya.

Menurut dia, kisah lalu ada baiknya dijadikan sebagai pengalaman untuk menatap masa depan, bagaimana menjadikan Papua sejajar atau lebih baik lagi dengan daerah lainnya di Indonesia, dengan harapan generasi penerus bisa hidup lebih baik dari masa lalu dan masa kini.

“Masa lalu bukan dilupakan tapi dijadikan bahan evaluasi agar kita lebih baik lagi. Mari tatap masa depan dengan optimistis, karena masih banyak kekurangan yang harus kita benahi dan pelajari agar tidak lagi hidup bergantung pada keadaan, tapi kerja dan kerja untuk masa depan,” katanya.

Berkaitan dengan 1 Desember yang biasa diperingati sebagai HUT Organisasi Papua Merdeka oleh sebagian orang, Ali sapaan akrabnya berpendapat bahwa masih ada yang perlu dibenahi dan diperjuangkan bersama, bukan lewat dengan aksi turun jalan untuk meminta pisahkan diri.

“Bagaimana kita mau maju, mau merdeka, kalau masih banyak yang belum maju, belum memahami apa itu kata merdeka. Pahami konteksnya dengan baik, meredeka dalam kemajuan, merdeka dalam pendidikan, merdeka dalam ekonomi, merdeka dalam kesejateraan, inilah yang harus kita perjuangkan, bukan berseberangan dengan negara,” katanya.

Ali mencontohkan hal yang paling riil di Kota Jayapura adalah kekurangan pasokan air minum dari instansi terkait, sehingga membuat warga di Ibu Kota Provinsi Papua berteriak mencari air.

“Ini saja contoh paling kecil, apakah kita bisa cari solusi bersama atau tidak? Bagaimana mau bicara merdeka kalau air saja yang dibutuhkan tidak ada? Jadi, mari kita realistis saja, pacu diri sendiri, tuntut ilmu setinggi-tingginya, sehingga bisa sejahtera diri dan keluarga, baru teriak hal lainnya,” katanya.

Untuk itu, Ali mengajak agar kaum muda Papua lebih bijak dan jeli dalam menerima informasi atau ajakan untuk demo atau turun jalan, karena hal itu hanya akan membuat satu-dua individu atau kelompok mendapatkan keuntungan pribadi, bukan untuk masyarakat Papua pada umumnya.

“Ingat, berbuatlah hal yang positif untuk pribadi dan keluarga, berpikirlah kedepan bukan kebelakang. Masa lalu jadikan pijakan untuk bertindak masa kini dan meraih masa depan yang cerah dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia, karena Papua pasti lebih maju jika kita bersama-sama bersatu membangun daerah ini,” katanya.(*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: